Pariaman, (MataAndalas) - Aliansi Mahasiswa Pariaman Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di Kota Pariaman, Senin (5/1/2026), menyoroti kepemimpinan Wali Kota Yota Balad serta transparansi pemerintah di tengah bencana banjir. Ironisnya, aksi kritis ini berlangsung tanpa liputan dari media lokal maupun regional.
Koordinator Lapangan, Alam Syahputra, menegaskan, “Ketika pencitraan kekuasaan selalu diramaikan media, sementara kritik mahasiswa dibiarkan senyap, itu bukan kebetulan. Ini upaya pembungkaman kritik.”
Mahasiswa menyoroti sejumlah masalah utama:
Wali Kota Yota Balad meninggalkan Pariaman sebelum bencana pada 27 November 2025 dan diduga absen pada 21 Desember 2025, padahal Menteri Dalam Negeri menegaskan kepala daerah harus fokus di lokasi terdampak.
Program unggulan seperti Pariaman PERKASA, pembangunan GOR, dan layanan pendidikan gratis dianggap lebih bersifat seremoni dan pencitraan, dengan dampak nyata yang minim.
Aliansi menuntut keterbukaan penggunaan dana rehabilitasi pascabencana dan mekanisme distribusi bantuan agar tepat sasaran.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan kritik secara simbolik, termasuk pembacaan puisi Gus Mus “Kau ini bagaimana”, sebagai sindiran terhadap kepemimpinan yang tidak jelas arah kebijakannya.
Mahasiswa juga melakukan aksi donasi koin receh, sebagai simbol bahwa pemerintah seolah tidak peduli dan rakyat harus ikut “membiayai” pembangunan.
Alam Syahputra menegaskan, “Kepemimpinan sejati ditunjukkan melalui kerja nyata, keberpihakan, dan kehadiran langsung di tengah rakyat. Jika tuntutan kami diabaikan, aksi lanjutan akan dilakukan.”
Menanggapi konfirmasi wartawan MataAndalas, Wali Kota Yota Balad menjawab singkat,
“Bagusnya samo Kesbangpol untuk informasinya, pak. Makasi,” Selasa (6/1).
Sementara konfirmasi ke Polres Pariaman mengenai pengamanan aksi belum mendapatkan jawaban resmi.
Alam Syahputra menambahkan, “Respon Wali Kota yang membungkam media justru memicu kami untuk mengadakan aksi lanjutan yang lebih besar, dengan isu dan tuntutan lebih serius.”***