Adab Sebelum Ilmu, Masihkah Relevan?

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:34:28 WIB
Dr. Iswadi M.Yazid, M.Sy

OPINI: Oleh Dr. Iswadi M.Yazid, M.Sy


Ada kenangan yang mungkin masih melekat dalam ingatan banyak orang tentang bagaimana anak-anak dahulu dibesarkan, terutama dalam keluarga-keluarga Melayu yang menjadikan kesantunan sebagai napas kehidupan. 

Pagi belum sepenuhnya terang, tetapi anak-anak telah bersiap berangkat ke sekolah. Sebelum melangkah keluar rumah, mereka lebih dahulu menyalami dan mencium tangan ayah serta ibu, memohon restu untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan, setiap orang yang lebih tua disapa dengan salam dan senyum hormat.

Jika berpapasan, mereka memperlambat langkah sambil sedikit menundukkan badan sebagai tanda takzim. Di ruang kelas, guru bukan sekadar penyampai pelajaran, melainkan sosok yang dimuliakan.

Murid mendengarkan dengan penuh perhatian, enggan menyela pembicaraan, bahkan merasa sungkan jika harus mengangkat suara di hadapan gurunya. 

Menjelang senja, setelah puas bermain bersama teman sebaya, mereka berbondong-bondong menuju surau. Di tempat itulah mereka belajar membaca Al-Qur'an sekaligus menyerap pelajaran hidup yang tidak tertulis di buku sekolah: bagaimana duduk dengan sopan, meminta izin sebelum berbicara, menghormati orang yang lebih tua, menjaga lisan, hingga mengendalikan sikap ketika berada di majelis ilmu. 

Semua itu tidak diajarkan melalui teori panjang, melainkan tumbuh melalui kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. 

Dalam masyarakat Melayu, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak menjadi pintar, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang tahu menempatkan diri. 

Tidak mengherankan jika orang tua pada masa itu lebih dahulu menanyakan bagaimana perilaku anak di sekolah daripada berapa nilai yang dibawanya pulang. Sebab, dalam pandangan orang Melayu, ilmu akan kehilangan keberkahannya apabila tidak disertai adab. 

Falsafah "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah" menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur dari kecerdasannya, melainkan dari keluhuran budi pekertinya.

Kekayaan boleh dicari, ilmu dapat dipelajari, tetapi adab harus diwariskan. Kini, lanskap kehidupan berubah dengan sangat cepat.

Sebagian tradisi itu memang masih dapat ditemukan, tetapi tidak lagi sekuat dahulu. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang sama sekali berbeda dengan generasi orang tuanya. Mereka mengenal layar sentuh sebelum mengenal kapur tulis, lebih akrab dengan mesin pencari daripada perpustakaan, dan lebih sering memperoleh jawaban dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) daripada mendengar petuah kakek atau neneknya. 

Dalam hitungan detik mereka dapat menemukan informasi dari berbagai penjuru dunia, membuat presentasi dengan bantuan AI, mengikuti pembelajaran daring, bahkan berkomunikasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Tidak dapat dipungkiri, semua itu merupakan buah dari kemajuan teknologi yang patut disyukuri.

Anak-anak di pelosok kini memiliki peluang belajar yang hampir sama dengan mereka yang tinggal di kota besar. Pengetahuan terbuka lebar, kesempatan berkembang semakin luas, dan dunia seolah hadir dalam genggaman tangan. 

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terselip kegelisahan yang semakin sering terdengar dari ruang keluarga, ruang guru, hingga mimbar-mimbar keagamaan. 

Banyak orang tua merasa anak lebih sulit dinasihati dibandingkan dahulu. Guru mengeluhkan semakin berkurangnya rasa hormat peserta didik. Sapaan hangat ketika memasuki rumah mulai tergantikan oleh tatapan yang tidak pernah lepas dari layar telepon genggam.

Percakapan di meja makan semakin pendek, sementara waktu bersama gawai semakin panjang. Dari sinilah muncul anggapan yang sering diucapkan secara spontan bahwa anak-anak sekarang telah kehilangan adab. Akan tetapi, apakah kesimpulan tersebut benar-benar menggambarkan kenyataan?

Menempatkan anak sebagai pihak yang paling bersalah justru menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Tidak ada anak yang dilahirkan dengan sifat santun ataupun tidak santun. Karakter dibentuk melalui proses yang panjang, dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, lingkungan, dan budaya tempat mereka bertumbuh. Karena itu, ketika kita melihat gejala memudarnya adab, yang semestinya dikaji bukan hanya perilaku anak, tetapi juga perubahan cara masyarakat mendidik mereka.

Adab tidak tumbuh melalui nasihat yang sesekali disampaikan, melainkan melalui contoh yang terus-menerus dilihat dan dialami setiap hari. Persoalannya, ruang untuk memberikan keteladanan semakin menyempit. 

Kesibukan ekonomi membuat banyak orang tua menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Momen kebersamaan yang dahulu dipenuhi percakapan kini perlahan digantikan oleh kehadiran gawai.

Ketika anak menangis, telepon pintar menjadi pengalih perhatian. Saat orang tua sibuk bekerja, video menjadi teman yang menemani anak berjam-jam. Tanpa disadari, algoritma media sosial perlahan mengambil alih peran yang dahulu dimainkan oleh dongeng sebelum tidur, petuah selepas salat Magrib, atau obrolan sederhana di meja makan.

Anak-anak akhirnya lebih banyak belajar dari apa yang mereka tonton daripada dari apa yang mereka dengar langsung dari orang tuanya.

Yang berubah bukan hanya kebiasaan anak, melainkan juga pola pengasuhan yang membentuk mereka. Fenomena serupa juga terasa di dunia pendidikan.

Sekolah menghadapi tuntutan yang semakin berat untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di era global. Literasi digital, penguasaan bahasa asing, kemampuan berpikir kritis, pemanfaatan kecerdasan buatan, hingga berbagai keterampilan abad ke-21 menjadi agenda yang tidak dapat dihindari. 

Semua itu memang penting sebagai bekal menghadapi masa depan. Namun, di tengah berbagai tuntutan tersebut, pendidikan adab sering kali kehilangan porsinya. Keberhasilan lebih banyak diukur melalui capaian akademik, prestasi kompetisi, nilai ujian, atau sertifikat, sementara kejujuran, rasa hormat, kedisiplinan, empati, dan tanggung jawab belum tentu memperoleh perhatian yang sama. Padahal, tradisi pendidikan Islam justru mengajarkan kebalikannya. 

Para ulama terdahulu meyakini bahwa adab adalah gerbang menuju ilmu. Ilmu dapat menjadikan seseorang cerdas, tetapi hanya adab yang mampu menjaga kecerdasan itu tetap berada pada jalan yang benar.

Karena itu, kegelisahan terhadap lunturnya adab sesungguhnya bukanlah romantisme terhadap masa silam, melainkan kegelisahan tentang masa depan. Kita sedang memasuki zaman ketika manusia akan hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan yang mampu bekerja lebih cepat, menghitung lebih akurat, dan mengolah informasi lebih efisien daripada manusia. Namun, secanggih apa pun teknologi berkembang, ia tidak akan pernah mampu menggantikan kejujuran, amanah, rasa hormat, empati, kasih sayang, dan tanggung jawab. 

Semua nilai itu hanya dapat tumbuh melalui pendidikan adab yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh sekolah, dan dipelihara oleh masyarakat. Karena itu, pertanyaan "Adab sebelum ilmu, masihkah relevan?"

sesungguhnya tidak sedang mengajak kita bernostalgia terhadap masa lalu. Pertanyaan itu justru mengingatkan bahwa di tengah dunia yang semakin canggih, adab bukanlah nilai yang usang, melainkan fondasi yang menentukan apakah ilmu akan menjadi cahaya bagi peradaban atau justru sebaliknya.

Menelusuri khazanah keilmuan Islam, kita menemukan satu prinsip yang selalu dijunjung tinggi oleh para ulama, yakni adab didahulukan sebelum ilmu. Bagi mereka, ilmu dan adab adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Imam Malik pernah berpesan agar seorang anak terlebih dahulu dibentuk akhlaknya sebelum diperdalam ilmunya. 

Pesan serupa juga tercermin dalam ungkapan Abdullah bin Mubarak yang mengaku lebih lama mempelajari adab daripada ilmu. Ungkapan ????? ??? ????? (adab sebelum ilmu) bukan sekadar nasihat klasik, melainkan filosofi pendidikan yang menegaskan bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah. Kecerdasan yang tidak dibimbing oleh akhlak berpotensi melahirkan kesombongan, penyalahgunaan kekuasaan, bahkan kerusakan sosial. Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas fondasi adab akan menjadi sumber kemaslahatan bagi kehidupan.

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Al-Qur'an. Dalam nasihat Luqman kepada putranya (QS. Luqman: 13–19), Allah SWT lebih dahulu mengajarkan tauhid, bakti kepada orang tua, salat, kesabaran, serta etika dalam berbicara dan bersikap sebelum membahas urusan duniawi. Rasulullah SAW pun menegaskan, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." 

Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan Islam bukan sekadar mencerdaskan akal, tetapi membentuk manusia yang jujur, amanah, berempati, dan menghormati sesama. Sayangnya, orientasi pendidikan saat ini cenderung lebih menonjolkan prestasi akademik daripada pembentukan karakter. 

Orang tua bangga ketika anak menguasai teknologi, bahasa asing, atau meraih berbagai penghargaan, tetapi sering lupa mengapresiasi kesantunan, kepedulian, dan penghormatan kepada orang tua maupun guru. Padahal, kehidupan tidak hanya membutuhkan orang yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas. Dokter, hakim, guru, maupun pemimpin akan lebih dihormati karena akhlaknya daripada sekadar gelar yang disandangnya.

Karena itu, memudarnya adab tidak layak dibebankan kepada anak semata. Anak adalah cerminan lingkungan yang membesarkannya. Ketika keluarga kehilangan waktu untuk mendidik, sekolah lebih sibuk mengejar capaian akademik, dan ruang digital lebih banyak membentuk karakter daripada keteladanan orang tua, maka adab perlahan kehilangan tempatnya. Solusinya bukan sekadar menuntut anak agar lebih santun, melainkan menghidupkan kembali rumah sebagai madrasah pertama, memperkuat pendidikan karakter di sekolah, mengoptimalkan peran masjid dan penyuluh agama, serta menghidupkan nilai budaya Melayu yang berpijak pada falsafah "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah." 

Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan, prinsip "adab sebelum ilmu" justru semakin relevan. Sebab, teknologi dapat mencerdaskan manusia, tetapi hanya adab yang mampu menjaga kemuliaan ilmu dan mengantarkan sebuah bangsa menuju peradaban yang bermartabat.wallahu a’lam

Halaman :

Terkini