Opini Oleh: Iswadi M. Yazid
Ada paradoks menarik dalam kehidupan manusia modern. Seseorang dapat memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan klub sepak bola yang berada ribuan kilometer dari tempat tinggalnya. Ia mungkin belum pernah mengunjungi stadion klub tersebut, tidak mengenal para pemainnya secara pribadi, bahkan tidak memiliki hubungan apa pun dengan kota tempat klub itu berasal. Namun, jarak geografis tidak menghalangi lahirnya kesetiaan.
Ketika pertandingan berlangsung tengah malam, rasa kantuk dilawan. Jadwal kompetisi diingat, perkembangan pemain diikuti, pergantian pelatih diperhatikan, dan kabar transfer menjadi percakapan yang tidak pernah membosankan. Kekalahan memang mengecewakan, tetapi tidak serta-merta mengakhiri dukungan. Bahkan ketika klub gagal meraih gelar selama bertahun-tahun, pendukungnya tetap bertahan.Fenomena ini menarik jika dibawa ke ruang yang lebih dekat: keluarga. Mengapa manusia dapat begitu sabar menunggu klub kesayangannya kembali berjaya, tetapi terkadang tidak cukup sabar menghadapi kekurangan orang-orang terdekatnya? Mengapa kesalahan pemain dapat dimaklumi sebagai bagian dari pertandingan, sedangkan kesalahan pasangan sulit dimaafkan?
Mengapa sembilan puluh menit terasa singkat ketika menonton pertandingan, tetapi beberapa menit untuk mendengarkan pasangan atau anak terasa sulit disediakan?
Persoalannya tentu bukan boleh atau tidaknya mencintai sepak bola. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana manusia mengelola perhatian, emosi, komitmen, dan kesetiaannya. Jangan-jangan kita telah menjadi ahli dalam mendukung sesuatu yang jauh, tetapi perlahan kehilangan keterampilan merawat orang-orang yang paling dekat. Kita mengetahui kelemahan lini pertahanan klub kesayangan, tetapi tidak memahami kegelisahan pasangan. Kita mampu menganalisis strategi pelatih, tetapi jarang mengevaluasi komunikasi di rumah.
Kita memaklumi pemain yang gagal mengeksekusi penalti, tetapi sulit memaafkan kesalahan kecil anggota keluarga.Ironi inilah yang membuat sepak bola menarik dijadikan cermin kehidupan berkeluarga. Sebab, sebuah pertandingan tidak hanya berbicara tentang kemenangan dan kekalahan. Di dalamnya terdapat kerja sama, pembagian peran, komunikasi, pengendalian emosi, evaluasi, strategi, kesetiaan, dan tujuan bersama. Setidaknya terdapat lima pelajaran yang dapat direnungkan dari lapangan hijau untuk kehidupan keluarga.Pertama, keluarga adalah tim yang dibangun dengan kerja sama dan peran yang saling melengkapi (ta'awun).
Kesadaran sebagai satu tim merupakan fondasi penting kehidupan keluarga. Namun, prinsip ini sering hilang ketika rutinitas, tekanan ekonomi, pekerjaan, dan berbagai persoalan datang bersamaan. Tanpa disadari, suami dan istri mulai menghitung kontribusi masing-masing. Ada suami yang merasa keberhasilan keluarga berasal dari kerja kerasnya mencari nafkah.
Ada istri yang merasa pengorbanannya mengurus rumah dan anak tidak dihargai. Ketika setiap orang mulai menghitung jasa, rumah perlahan berubah menjadi arena kompetisi. Siapa paling banyak bekerja? Siapa paling lelah? Siapa paling banyak berkorban?
Jika pertanyaan semacam ini terus mendominasi, keluarga akan kehilangan wataknya sebagai ruang kebersamaan. Hubungan berubah menjadi transaksi; kebaikan dicatat, pengorbanan dihitung, sementara kesalahan disimpan untuk memenangkan pertengkaran berikutnya. Padahal, sebuah tim dapat memiliki pemain terbaik, tetapi belum tentu menjadi tim terbaik.
Kualitas individu tidak otomatis menghasilkan kemenangan kolektif. Di lapangan, tidak semua orang harus mencetak gol. Ada pemain yang menghentikan serangan lawan, mengatur ritme permainan, atau bekerja tanpa banyak mendapat sorotan.Keluarga pun demikian. Tidak semua kontribusi terlihat. Ada pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, ada pekerjaan domestik yang dilakukan berulang kali, ada waktu untuk mendampingi anak, serta tenaga dan pikiran untuk menjaga kenyamanan rumah.
Perbedaan peran bukan alasan untuk menentukan siapa yang paling penting, melainkan kekuatan yang membuat keluarga dapat berjalan dengan seimbang.Di sinilah ta'awun menemukan relevansinya. Ta'awun bukan sekadar membantu ketika diminta, melainkan kesadaran bahwa beban kehidupan akan lebih ringan ketika dipikul bersama. Dalam QS. Al-Maidah ayat 2, Allah Swt.
memerintahkan manusia untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Maka, pertanyaan yang seharusnya tumbuh di rumah bukanlah, “Siapa yang paling banyak berkorban?”, melainkan, “Apa yang dapat kita lakukan bersama agar keluarga ini menjadi lebih baik?” Kedua, keluarga membutuhkan komunikasi dan kelapangan hati, bukan pemenang dalam setiap perdebatan (hiwar). Kecanggihan teknologi tidak selalu membuat hubungan keluarga semakin dekat.
Ada keluarga yang tinggal serumah, tetapi sibuk dengan layar masing-masing; mengetahui perkembangan dunia, tetapi tidak memahami kegelisahan orang terdekat. Karena itu, keluarga membutuhkan hiwar, yakni kesediaan untuk berbicara, mendengarkan, dan saling memahami. Banyak konflik membesar bukan karena beratnya persoalan, melainkan karena setiap orang ingin didengar tanpa bersedia mendengar. Dalam sepak bola, seorang pemain dapat mencetak gol, tetapi timnya tetap kalah. Demikian pula dalam keluarga, seseorang dapat memenangkan perdebatan, tetapi kehilangan kedekatan dengan orang yang dicintainya. Komunikasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling benar atau paling keras berbicara, melainkan siapa yang bersedia memahami. Ada kalanya mengalah menyelamatkan hubungan dan meminta maaf jauh lebih berharga daripada memenangkan perdebatan. Ketiga, masa depan keluarga sangat ditentukan oleh kemampuan mengendalikan emosi (kazm al-ghayz). Manusia terkadang mengambil keputusan penting ketika emosinya berada pada kondisi paling buruk. Ucapan beberapa detik dapat meninggalkan luka bertahun-tahun.
Kemarahan yang tidak terkendali dapat menghancurkan kepercayaan. Tindakan sesaat dapat mengubah perjalanan sebuah keluarga.Di sinilah pentingnya kazm al-ghayz, kemampuan menahan amarah. QS. Ali Imran ayat 134 memberikan penghargaan kepada mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Kekuatan manusia tidak hanya diukur dari keberanian menghadapi orang lain, tetapi juga kemampuannya menguasai diri.Dalam sepak bola, satu pemain yang kehilangan kendali dapat memperoleh kartu merah dan merugikan seluruh tim. Ia mungkin bermain sangat baik selama delapan puluh menit, tetapi satu tindakan emosional dapat mengubah hasil pertandingan. Dalam keluarga, dampaknya bahkan lebih panjang.
Kemarahan orang tua dapat membekas dalam ingatan anak. Ucapan pasangan dapat merusak harga diri. Pengkhianatan dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.Ironisnya, manusia sering menyesali ucapan setelah semuanya telanjur terjadi.
Ketika emosi mereda, hubungan mungkin sudah terluka. Ketika permintaan maaf disampaikan, kata-kata yang menyakitkan mungkin masih tersimpan dalam ingatan.
Karena itu, keluarga membutuhkan kemampuan berhenti sebelum bertindak, berpikir sebelum berbicara, dan mempertimbangkan akibat sebelum mengambil keputusan.Menahan diri bukan tanda kelemahan. Justru kemampuan menguasai emosi merupakan salah satu bentuk kekuatan terbesar dalam menjaga keutuhan keluarga. Sebab, tidak semua hal yang ingin dikatakan harus diucapkan, tidak semua kemarahan harus dilampiaskan, dan tidak semua kesalahan harus dibalas pada saat itu juga.Keempat, persoalan keluarga membutuhkan evaluasi dan musyawarah, bukan perlombaan mencari siapa yang harus disalahkan (muhasabah).
Setiap keluarga pasti menghadapi persoalan, mulai dari kesulitan ekonomi, perbedaan cara mendidik anak, hingga komunikasi yang memburuk. Seperti tim profesional yang mengevaluasi strategi setelah mengalami kekalahan, keluarga pun membutuhkan muhasabah untuk menemukan kekurangan dan melakukan perbaikan. Sayangnya, kita sering lebih mudah melihat kesalahan pasangan daripada mengoreksi diri sendiri. Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Apa kesalahannya?”, melainkan, “Apa yang perlu saya perbaiki?” Namun, evaluasi diri saja tidak cukup. Keluarga juga membutuhkan “ruang ganti”, yaitu waktu untuk berbicara dan mencari jalan keluar bersama. Di tengah berbagai kesibukan, suami, istri, dan anak perlu menyediakan ruang untuk saling mendengarkan, mengevaluasi hubungan, dan memperbaiki persoalan yang ada. Sebab, sebagaimana sebuah tim, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami kekalahan, melainkan yang bersedia belajar, memperbaiki strategi, dan kembali melanjutkan pertandingan bersama.Kelima, kesetiaan menemukan maknanya ketika keluarga mampu bertahan dan bertumbuh menuju ketenteraman (wafa').
Mendukung klub ketika menang tentu menyenangkan, tetapi kesetiaan justru diuji ketika kekalahan datang. Demikian pula dalam perkawinan, wafa' bukan sekadar janji pada awal perjalanan, melainkan keteguhan menjaga komitmen ketika kesulitan ekonomi, persoalan pekerjaan, kekurangan pasangan, dan berbagai tekanan kehidupan datang. Keluarga yang kuat bukanlah keluarga tanpa masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi persoalan dan menjadikannya ruang untuk bertumbuh. Lalu, apakah ukuran kemenangan sebuah keluarga? Jika sepak bola mengenal gol, poin, klasemen, dan trofi, keberhasilan keluarga sering hadir dalam hal-hal sederhana: rumah yang nyaman untuk pulang, pasangan yang saling menghargai, anak yang merasa aman untuk bercerita, serta kesulitan yang tidak membuat satu sama lain meninggalkan. Di situlah sakinah menemukan maknanya, yakni ketenteraman yang tumbuh karena setiap anggota keluarga merasa diterima, dicintai, dan memiliki tempat untuk kembali. Maka, keluarga memerlukan ta'awun untuk bekerja sama, hiwar untuk menjaga komunikasi, kazm al-ghayz untuk mengendalikan emosi, muhasabah untuk memperbaiki diri, dan wafa' untuk menjaga komitmen menuju sakinah. Kita tidak perlu berhenti menjadi penggemar sepak bola, tetapi perlu menata kembali ukuran kesetiaan. Jangan sampai kita bertahan puluhan tahun mendukung klub yang terus mengalami kekalahan, tetapi kehilangan kesabaran menghadapi kekurangan orang-orang terdekat. Kita boleh menjadi pendukung paling setia bagi klub kesayangan, tetapi jangan lupa bahwa tim yang paling membutuhkan kesetiaan, perjuangan, dan kehadiran kita bukanlah mereka yang bermain sembilan puluh menit di lapangan, melainkan mereka yang setiap hari menunggu kita pulang di rumah. Wallahu a'lam.