Ketika Mitos Menyelimuti Bulan Shafar

Jumat, 24 Juli 2026 | 10:42:29 WIB
Keterangan foto: Ilustrasi opini tentang pelurusan mitos seputar bulan Shafar dalam perspektif Islam. Jumat, 24 Juli 2026.

Opini Oleh : Dr. Iswadi M.Yazid, M.Sy

Setiap kali bulan Shafar hadir dalam penanggalan Hijriah, berbagai anggapan mengenai kesialan seolah kembali menemukan ruang hidup di tengah masyarakat. Masih ada yang memilih menunda pernikahan, mengurungkan niat membuka usaha, membatasi perjalanan, bahkan melakukan ritual tertentu dengan keyakinan dapat menghindarkan diri dari bala yang diyakini turun pada bulan tersebut. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan, teknologi informasi, dan akses terhadap sumber-sumber keislaman belum sepenuhnya mampu mengikis cara pandang yang bertumpu pada mitos. Yang menarik, persoalan sebenarnya bukan terletak pada bulan Shafar itu sendiri, melainkan pada cara manusia memaknainya. 

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ada bulan yang secara inheren membawa kesialan atau keberuntungan. Waktu hanyalah ciptaan Allah Swt. yang berfungsi sebagai penanda perjalanan kehidupan, bukan sebagai penentu nasib manusia. Karena itu, mengaitkan datangnya musibah dengan bulan tertentu sesungguhnya lebih dekat kepada persoalan akidah daripada persoalan tradisi. Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab pada masa Jahiliah telah memandang Shafar sebagai bulan yang harus diwaspadai karena diyakini sarat dengan malapetaka.

Berbagai aktivitas penting dihindari pada masa itu karena mereka percaya bahwa bulan tersebut membawa pengaruh buruk terhadap kehidupan. Cara berpikir seperti inilah yang kemudian diluruskan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya, "L? 'adw? wa l? ?iyarah wa l? h?mata wa l? ?afar," yang menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Shafar sebagaimana diyakini masyarakat saat itu. Pesan hadis tersebut tidak berhenti pada penolakan terhadap sebuah mitos, melainkan mengandung transformasi cara berpikir yang sangat mendasar, yakni mengalihkan ketergantungan manusia dari berbagai kepercayaan yang bersifat tahayul menuju keyakinan yang utuh kepada Allah Swt. Dengan kata lain, Rasulullah sedang membangun fondasi tauhid yang membebaskan manusia dari rasa takut kepada waktu, benda, angka, maupun berbagai pertanda yang tidak memiliki dasar syariat.

Ironisnya, meskipun hadis tersebut telah dikenal luas, jejak keyakinan lama masih bertahan dalam berbagai bentuk yang lebih halus. Ada yang mengatasnamakannya sebagai adat, petuah orang tua, tradisi turun-temurun, bahkan kearifan lokal. Padahal, selama sebuah tradisi melahirkan keyakinan bahwa suatu waktu memiliki kekuatan gaib yang dapat mendatangkan celaka atau keberuntungan secara mandiri, maka persoalan tersebut telah bergeser dari ranah budaya menuju ranah keyakinan. Islam memang menghargai tradisi sebagai bagian dari identitas masyarakat, tetapi penghargaan itu memiliki batas yang jelas, yakni tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah. Al-Qur'an sendiri berulang kali mengingatkan agar manusia tidak menerima suatu keyakinan hanya karena diwariskan oleh generasi sebelumnya. 

Kebenaran dalam Islam diukur berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan lamanya suatu kebiasaan dipertahankan atau banyaknya orang yang mempercayainya. Dalam konteks inilah kesalahpahaman terhadap bulan Shafar sesungguhnya mencerminkan masih perlunya penguatan literasi keagamaan di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang lebih akrab dengan cerita mengenai bulan sial daripada memahami hadis-hadis sahih yang justru menolak keyakinan tersebut. Bahkan di era media sosial, informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah sering kali menyebar lebih cepat daripada penjelasan para ulama.

Akibatnya, sebagian masyarakat lebih mudah mempercayai narasi yang dibangun oleh tradisi atau pesan berantai dibandingkan penjelasan agama yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi dakwah Islam kontemporer. Tugas dakwah bukan hanya mengajak umat memperbanyak ibadah, melainkan juga membangun cara berpikir yang kritis, rasional, dan berpijak pada dalil. Peran keluarga menjadi sangat penting karena rumah merupakan tempat pertama anak belajar memahami hubungan antara agama dan kehidupan. Orang tua tidak cukup mengajarkan tata cara ibadah, tetapi juga harus menanamkan prinsip bahwa segala sesuatu yang terjadi berlangsung atas kehendak Allah Swt., bukan karena pengaruh bulan, hari, angka, ataupun simbol tertentu.

Pendidikan tauhid yang benar akan membentuk generasi yang tidak mudah dipengaruhi oleh mitos, tidak menjadikan rasa takut sebagai dasar mengambil keputusan, dan tidak menggantungkan harapan kepada sesuatu selain Allah. Dari sinilah lahir sikap optimistis untuk bekerja, belajar, menikah, membuka usaha, maupun melakukan berbagai aktivitas pada bulan apa pun tanpa dihantui keyakinan yang tidak memiliki pijakan agama. 

Seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar secara maksimal, memperbanyak doa, kemudian bertawakal kepada Allah, bukan sibuk mencari waktu yang dianggap paling membawa keberuntungan. Oleh sebab itu, datangnya bulan Shafar semestinya dijadikan momentum untuk memperkuat kembali kemurnian tauhid dan meningkatkan literasi keislaman agar masyarakat semakin mampu membedakan antara ajaran agama dan kepercayaan yang lahir dari budaya.

Persoalan terbesar bukanlah keberadaan mitos tentang bulan Shafar, melainkan kecenderungan sebagian umat menerima sebuah keyakinan tanpa terlebih dahulu mengujinya dengan dalil yang sahih. Padahal Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari belenggu prasangka, tahayul, dan ketakutan semu menuju keyakinan yang utuh kepada Allah Swt. Selama tauhid menjadi fondasi kehidupan, tidak ada bulan yang membawa sial, tidak ada hari yang menentukan nasib, dan tidak ada waktu yang memiliki kuasa selain atas izin-Nya.

Karena itu, ketika bulan Shafar masih disalahpahami, yang sesungguhnya memerlukan pembenahan bukanlah kalender Hijriah, melainkan cara berpikir umat dalam memahami ajaran agamanya, sebab Islam dibangun di atas ilmu, hujah, dan wahyu, bukan di atas mitos, asumsi, atau warisan keyakinan yang tidak memiliki landasan syariat.wallahu a’lam
 

Terkini