Perundungan atau bullying berasal dari kata rundung, yang berarti mengganggu, mengusik terus-menerus, dan menyusahkan orang lain. Permendikbud mendefinisikannya sebagai tindakan kekerasan fisik, verbal, atau psikologis yang dilakukan secara berulang hingga menimbulkan rasa tidak aman pada korban. Dari pengertian ini jelas bahwa bullying adalah kejahatan yang berulang, yang bila dibiarkan berkembang menjadi kebiasaan. Lebih memilukan lagi, kini kasus bullying bahkan telah merenggut nyawa.
Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) KPPPA tahun 2018 menyebutkan bahwa 3 dari 4 anak dan remaja yang pernah mengalami kekerasan melaporkan bahwa pelakunya adalah teman sebaya. Mantan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, juga pernah menyatakan bahwa hampir 40% kasus bunuh diri di Indonesia disebabkan oleh perundungan. Fakta ini seharusnya mengetuk kemanusiaan kita. Alih-alih menyalahkan korban yang memilih jalan pintas, pertanyaan yang muncul adalah: mengapa tidak ada yang menghentikan ketika semua tanda sudah terlihat?
Data ini datang dan pergi. Kita terkejut, saling menyalahkan, lalu lupa, hingga tragedi berikutnya kembali muncul.
Mengapa Anak Bisa Menjadi Pelaku? Ke Mana Hilangnya Empati?
Pertanyaan demi pertanyaan mengemuka:
Mengapa ada anak yang tega menyakiti temannya sendiri?
Ke mana rasa belas kasih itu pergi?
Mengapa anak lain hanya diam saat temannya dirundung?
Mengapa orang dewasa mengabaikan ketika korban mengadu?
Pertanyaan ini menyingkap sesuatu yang lebih mendasar: empati kita sebagai masyarakat mulai terkikis. Kita sibuk mengajarkan berhitung dan coding, tetapi lupa mengajarkan cara merasakan perasaan orang lain.
Program Pendidikan Karakter: Nyaring di Atas Kertas, Redup di Lapangan
Pendidikan karakter selalu menjadi fondasi pendidikan Indonesia. Mulai dari Penguatan Pendidikan Karakter, Profil Pelajar Pancasila, hingga delapan dimensi Profil Lulusan Pembelajaran Mendalam. Program-program ini seharusnya membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara moral.
Namun, implementasinya sering hanya menjadi “nyanyian merdu” di atas kertas. Semakin sering karakter digaungkan, semakin marak pula bullying terjadi. Kita mendengar anak-anak bisa menghilangkan nyawa temannya sendiri, sebuah ironi yang begitu menyakitkan.
Bullying Tidak Bisa Diselesaikan dengan Poster
Bullying tidak selesai hanya dengan aturan, spanduk, atau slogan. Pendidikan karakter dibangun dari keteladanan, kepekaan, dan keberanian moral seluruh ekosistem sekolah, guru, siswa, orang tua, masyarakat, hingga pemerintah.
Ketika seorang anak disakiti berkali-kali tetapi tidak ada yang peduli, ini bukan semata kesalahan individu. Ini adalah kegagalan moral kolektif. Empati yang hilang bukan hanya melahirkan luka, pada titik tertentu, luka itu dapat merenggut nyawa.
Faktor-Faktor Hilangnya Empati
Hilangnya empati tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor:
1. Perubahan sosial dalam keluarga.
Orang tua semakin sibuk dan lelah, komunikasi dua arah semakin jarang, anak kehilangan ruang untuk didengar.
2. Lingkungan yang individualis.
Keberhasilan sering hanya diukur dari harta, bukan dari perilaku atau moral.
3. Budaya digital yang toksik.
Ejekan dianggap hiburan, kekerasan jadi bahan lucu-lucuan, konten hinaan viral demi likes.
Anak belajar bahwa merendahkan orang lain bisa mendatangkan perhatian.
Masalahnya, orang dewasa pun turut mempertontonkan hujatan dan drama di media sosial. Anak meniru apa yang kita contohkan, bukan apa yang kita katakan.
Ketika Korban Tak Dianggap Serius
Hal paling menyakitkan dari bullying adalah ketika korban melapor, tetapi dianggap cengeng, sensitif, atau berlebihan. Akhirnya mereka memilih diam, terjebak dalam tekanan emosional yang semakin berat. Sementara pelaku merasa aman dan terus mengulang.
Sekolah perlu dilatih untuk menangani bullying dengan serius. Guru harus peka mendeteksi tanda-tanda awal. Lingkungan sekolah dan masyarakat wajib menjamin keamanan bagi setiap siswa yang melapor.
Pelaku juga memerlukan pendampingan, bukan hanya hukuman. Sebab banyak pelaku adalah mantan korban yang tidak sembuh dari luka masa lalu. Memutus rantai bullying berarti menangani akar masalahnya.
Untuk Korban Bullying
Untuk para korban, jangan menyerah.
Carilah bantuan, laporkan melalui jalur resmi, melalui pesan, surat, atau curhatan kepada guru maupun teman yang dipercaya. Jangan hadapi sendirian. Ingatlah:
Kalian berharga. Hidup kalian berarti.
Jangan biarkan orang jahat membuat kalian merasa tidak layak hidup.
Keluarga mencintai kalian. Dunia membutuhkan keberanian kalian.***