PELALAWAN (MataAndalas) - Deru dayung yang dulu membelah sungai dan sorak penonton di tepian kini perlahan hanya tinggal kenangan. Pacu Sampan Kampo, tradisi yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Pelalawan, dinilai semakin tenggelam dan nyaris kehilangan panggung.
Padahal, tradisi ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat pesisir sungai yang sarat nilai kebersamaan, gotong royong, serta memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata budaya.
Kondisi tersebut disoroti Pemuda Sungai Ara melalui Naldo Galang. Ia menilai Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pelalawan belum memiliki langkah nyata untuk menghidupkan kembali Pacu Sampan Kampo.
"Apakah Pacu Sampan Kampo sudah tidak lagi dianggap penting, atau memang belum ada inovasi untuk menghidupkan kembali budaya yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat?" ujar Naldo kepada MataAndalas.com, Ahad (19/7/2026).
Menurutnya, sangat disayangkan apabila budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun justru semakin terabaikan. Bahkan, sejumlah sampan kampo kini telah usang dan tidak lagi digunakan.
Naldo berharap Disparpora dapat menyusun program pelestarian yang berkelanjutan, mulai dari pembinaan komunitas, peremajaan sampan, hingga memasukkan Pacu Sampan Kampo ke dalam kalender wisata daerah agar kembali menjadi agenda budaya tahunan.
"Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus diwariskan. Jika Pacu Sampan Kampo dibiarkan hilang, maka kita sedang kehilangan sebagian identitas Pelalawan," tutupnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pelalawan, Dodi Asma Putra, mengatakan pemerintah daerah sebenarnya pernah merencanakan pelaksanaan Pacu Sampan Kampo yang mengakomodasi sejumlah desa di pesisir Sungai Kampar.
"Dulu pernah di rencanakan.. kan ado beberapa desa di pesisir Sungai Kampar yang melaksanakan.. Tolam dulu pernah, Desa Kuala Terusan juga pernah.. kalo tak salah Langgam juga pernah.. ini harus akomodir semua.. beberapa tahun lalu pernah mau kami rencanakan buat event nya tapi mengakomodir semua.. karna di beberapa desa itu jenis sampan nya beda-beda.. tentu kita mengupayakan kegiatan tersebut bisa terus terlaksana. Kembali lagi menyesuaikan kemampuan keuangan daerah..," jelas Dodi saat dikonfirmasi MataAndalas, Ahad (19/7/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa wacana menghidupkan kembali Pacu Sampan Kampo sebenarnya telah ada. Namun, hingga kini pelaksanaannya masih terkendala pada upaya mengakomodasi seluruh desa peserta serta menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.