Pewaris Sultan Syarif Haroen Kritik Pemanfaatan Bandara RAPP yang Dinilai Melukai Marwah Negeri

Minggu, 30 November 2025 | 13:10:00 WIB
Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan

PELALAWAN, (Mataandalas) -  Gelombang dukungan terhadap Dedi, tokoh muda masyarakat Pelalawan yang lantang bersuara soal polemik Bandara RAPP, terus mengalir. Hari ini dukungan datang dari pewaris Kesultanan Pelalawan, Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan. yang menilai suara Dedi adalah suara yang menjaga marwah Melayu agar tidak terhapus oleh kepentingan korporasi.

Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan, menyampaikan kegelisahan yang telah lama dipendam masyarakat adat. Ia menyoroti penggunaan nama bandara Sultan Syarif Haroen Setia Negara, nama besar itu adalah simbol perlawanan masyarakat Melayu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan yang terus mengrongrong kedaulatan bangsa ini.

"Itu nama besar yang dihormati masyarakat Pelalawan sampai saat ini, Sultan Syarif Haroen Setia Negara adalah simbol kesetiaan anak bangsa yang gagah berani berjuang mempertahankan kemerdekaan kita," kata Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan, Ahad (30/11/2025).

Tak seperti namanya yang melekat, bandara milik RGE itu menjadi pintu masuk aktivitas internasional bagi kepentingan korporasi Sukamto Tanoto dan anak buahnya tanpa diketahui keuntungan apa yang didapat bangsa ini dari kegiatan penerbangan orang dan barang di sana.
Sultan Syarif Haroen Setia Negara seorang pahlawan anti penjajah, namanya kini di pakai oleh kolonialis bergaya modern yang dilekatkan pada aktivitas bandara tanpa kehadiran lembaga negara.

"Nama beliau itu terhormat, di pakai RAPP untuk nama bandara yang dipertanyakan aktivitas apa berlaku disana," lanjutnya

Mengingat bandara Sultan Syarif Haroen Setia Negara menghubungkan kepentingan bisnis RGE ke luar negeri, Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan, mempertanyakan keamanan dan kedaulatan negara lewat celah menganga pengelolaan bandara yang tidak bisa diakses oleh siapapun tanpa persetujuan pemilik RAPP.

"Amankah kedaulatan kita di celah bandara itu, jangan jangan bandara itu jadi pintu masuk naker WNA yang membanjiri projek projek RAPP, infonya saya dengar seperti itu,?" kata Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan.

Mirisnya lagi, nama besar bandara Sultan Syarif Haroen Setia Negara tidak serta merta bernilai manfaat bagi masyarakat Kabupaten Pelalawan yang sebagaian besar wilayahnya sudah di caplok oleh kerakusan Sukamto Tanoto melalui gurita bisnisnya RGE Grup.

"Bandara itu seratus persen kepentingan korporasi dan owner RGE, tidak ada dampaknya positifnya bagi masyarakat,"tegasnya

Dengan ketidak hadiran petugas negara dalam pengelolaan operasional bandara menjadi celah”masuknya kepentingan asing yang bakal mengancam kedaulatan NKRI.

"Kalau mereka beroperasi tanpa pengawasan instansi negara resmi, artinya kedaulatan negara sudah tidak ada," imbuhnya

Apalagi operasional bandara yang tidak semua pihak yang bisa mengakses kesana menjadi tanda tanya apakah pemimpin negeri Melayu ini masih memiliki marwah di tanahnya sendiri.

"Kalau aparatur pemerintah daerah yang berwenang tidak punya akses, berarti pemimpin kita tidak punya marwah," katanya

Sangat disayangkan, jika bergaining pemimpin daerah hanya dinilai dari kesuksesan finasial dalam menaklukkan tender kontraktor di anak anak perusahaan RGE grup untuk kepentingan pribadi, alih alih berjuang untuk menjaga marwah negeri Melayu Pelalawan.

"Titip pesan untuk pemimpin pemimpin muda Pelalawan, tidak semua nya bisa dibeli. Marwah kita harus dijaga, kedaulatan NKRI harga mati,"ungkapnya

Mereka sebatas pemanfaatannya tidak sejalan dengan kehormatan nama besar itu.

Menurutnya, bila bandara tersebut dibuka minimal untuk kepentingan masyarakat Kabupaten Pelalawan, seperti penerbangan antar negara seperti Singapura, Malaysia atau rute penerbangan antar provinsi, seperti ke Batam, Sumbar, Jambi dan Sumut. Ini menjadi nilai positif kehadiraan bandara bagi masyarakat. Daerah ini akan mendapatkan nilai tambah, termasuk peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka ruang kebersamaan antara pemerintah daerah dan perusahaan, serta memulihkan wibawa tanah Melayu di mata anak negri.

"Itu baru bermanfaat, masyarakat yang mau ke Singapura, ke Malaysia, atau ke Batam, ke Sumbar dan Sumut atau ke Jambi tidak perlu ke Pekanbaru, ada rute yang di buka di bandara Sultan Syarif Haroen Setia Negara," tegasnya

Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan, juga mengusulkan agar Bandara RAPP dapat memberikan manfaat nyata bagi kebutuhan masyarakat, khususnya akses keberangkatan jemaah Haji.

"Jika bandara ini dapat mempermudah jemaah Haji, ataupun masyarakat kita yang hendak berobat ke luar negeri, itu tentu menjadi amal kebaikan bagi negeri. Jangan biar kan fasilitas ini hanya menjadi persinggahan kaum elit," tambahnya.

Ia menekankan, marwah Melayu bukan sekedar simbol, melaikan napas sejarah yang wajib dijunjung tinggi oleh siapa pun yang berpijak di negeri ini.

"Marwah negri ini jangan sampai dikecilkan oleh kepentingan segelintir pihak. Negri Melayu tidak boleh layu di tanahnya sendiri," tegasnya.

Meski begitu, ia tetap mengingatkan agar perjuangan masyarakat harus berjalan sesuai aturan perundang-undangan.

"Kita bersuara bukan untuk menentang, tetapi untuk meluruskan yang bengkok. Namun jangan pula kita abaikan regulasi. Negri ini tetap beradat, tetap berundang," ujarnya.

Dukungan dari Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan, ini semakin menguatkan gelombang aspirasi masyarakat yang berharap Bandara RAPP benar - benar kembali kepada ruh kebangsaannya. Memberi manfaat bagi rakyat, serta menjaga marwah sejarah tanah Melayu Pelalawan.

Raja muda Drs H.T.Kas har Haroen, Tengku Pangeran Kesultanan Pelalawan, menutup pesannya dengan pepatah melayu yang mengisyaratkan bahwa masyarakat Melayu harus jadi tuan rumah di negerinya sendiri. Dialah yang menentukan dimana posisi tamu tegak berdiri, siapa yang bisa di terima atau tidak.

"Selagi darah Melayu mengalir, marwah itu wajib ditegakkan. Jangan biar kan kita anak Melayu ini menjadi tamu di tanahnya sendiri," tutupnya.

Sebagai tambahan,

Bandara milik korporasi PT RAPP pernah ditetapkan sebagai bandara internasional oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 38 Tahun 2025 tentang Penggunaan Bandara yang Dapat Melayani Penerbangan Langsung dari dan/atau ke Luar Negeri.

Dalam Kepmen tersebut, ada tiga bandara ditetapkan bandara internasional, yakni Bandara Khusus Sultan Syarief Haroen Setia Negara, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau; Bandara Khusus Weda Bay, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara; dan Bandara Khusus IMIP, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.

"Penerbangan langsung dari dan/atau ke luar negeri yang dilaksanakan pada bandara khusus sebagaimana dimaksud diperuntukkan bagi kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal atau angkutan udara bukan niaga dalam rangka medical evacuation, penanganan bencana; dan/atau pengangkutan penumpang dan kargo untuk menunjang kegiatan usaha pokoknya," demikian bunyi poin kedua dalam Kepmen 38/2025 itu.

Keputusan ini hanya berumur tiga bulan dan resmi dicabut pada 13 Oktober 2025 melalui Kepmen 55/2025 tentang Penggunaan Bandara yang Dapat Melayani Penerbangan Langsung dari dan/atau ke Luar Negeri.

"Pada saat Kepmen ini berlaku, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 38/2025 tentang Penggunaan Bandara yang Dapat Melayani Penerbangan Langsung dari dan/atau ke Luar Negeri dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” demikian bunyi Kepmen 55/2025

Namun jauh sebelum kepmen keluar dan dicabut lagi itu, aktivitas bandara STSH di RAPP sudah melayani penerbangan internasional, jika belum ada keputusan yang membolehkan penerbangan internasional di bandara STSH  selama ini, berarti pengelola bandara berlagak punya negara sendiri dalam NKRI.***

Terkini