Petir Sambar Hari Indah Endang Sekeluarga, BPJS Ketenagakerjaan Datang Hidupkan Asa

Petir Sambar Hari Indah Endang Sekeluarga, BPJS Ketenagakerjaan Datang Hidupkan Asa
Endang Sri Wahyuni istri dari Rianto (tengah) saat menerima santunan BPJS Ketenagakerjaan secara simbolis diserahkan oleh Assiten III Setda Pelalawan Mayhendri, Jumat (11/12/2025)

PELALAWAN (Mataandalas) - Rumah sederhana berdinding papan menjadi saksi perjuangan seorang ayah, Rianto (33) dalam merajut asa satu keluarga yang di kepalainya. Istana tempatnya pulang saat segala penat dirasa, kala berjuang menafkahi istri tercinta dan dua putri terkasih setelah seharian membanting tulang dalam perannya sebagai buruh kebun sawit menjadi kehangatan yang luar biasa bagi pria kelahiran Kabupaten Indragiri Hulu itu.

Senin, 23 september 2024, Rianto sudah siap melaksanakan rutinitas pagi, sebelum berangkat  memanen sawit milik salah seorang toke di Kelurahan Langgam Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan yang berlokasi kisaran 5 kilometer dari rumahnya, tepatnya di jalan Desa Tambak Kecamatan Langgam. Ia memastikan dulu kedua buah hati tersayang berangkat ke sekolah, mengejar cita cita dan mejadi kebanggaan keluarga kelak. Alasan inilah yang menjadi pemantik semangat Rianto untuk melakukan segala upaya dalam memperjuangkan nasib anak anaknya agar kemudian hari menjadi lebih baik darinya.

Endang Sri Wahyuni (29), melepas suami tercinta untuk berangkat kerja dengan pelukan hangat dan senyum manisnya menyemati si belahan jiwa memperjuangkan kehidupan satu keluarga. Tatapan penuh kebanggaan mengiringi sang pujaan hati memulai hari untuk menunaikan kewajiban menafkahi anak istri. 

Tas kerja berisi bekal untuk makan siang yang disiapkan istri dirapikan di punggung kekarnya,  ketika jok motor diduduki, ia langsung tancap gas meninggalkan halaman rumah, semakin lama dan semakin jauh pula Rianto berlalu meninggalkan si tulang rusuknya yang berjanji setia menunggunya pulang nanti petang. 

Motor itu melaju di jalur tanah basah yang berkelok-kelok menuju kebun sawit tempatnya menggantungkan harapan. Semak dan rerumputan liar di sisi kanan kiri jalan bergoyang pelan tersapu bagian lutut pengendara, cahaya matahari pagi mengintip diantara dedaunan basah. 

Ban motor cangkul yang khusus untuk track tanah menggilas permukaan jalan tanpa aspal.  Jalan setapak yang tak mulus, banyak tanjakan dan turunan terjal adalah tantangan saban hari yang harus dilewati Rianto,  namun ia sadar, akses satu satunya ke kebun sawit sejatinya adalah penghubung antara surganya di rumah dengan harapan. Di balik primadona pohon berbahasa latin Elaeis guineensis ini, ada kerja keras dan doa terpanjatkan, ada cita cita yang tak henti diikhtiarkan serta ada cinta yang selalu dijaga. Kuda besi yang ditunggangi Rianto menjadi saksi sejarah bahwa pejantan tangguh keluarga kecil itu telah mendidikasikan setiap nafas hidupnya untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi istri dan anak anaknya tersayang.

Endang tak menyangka, pelukan hangat pagi itu menjadi perjumpaan terakhirnya dengan suami terkasih, tulang punggung keluarga pulang dengan tubuh terbujur kaku tanpa denyut nadi. Sosok selama ini penuh kehangatan, kini pulang dalam diam yang menusuk relung hati. Wajahnya yang dulu selalu riang kini datang dalam raga yang dingin, ia menutup mata tanpa kata berpamitan. Rumah yang hari hari penuh canda tawa kini hening dengan kepergian yang tak pernah terduga.

“Abang berangkat kerja pagi. Siangnya pulang, beliau sudah tidak ada,” kisah Istri Rianto, Endang Sri Wahyuni, Kamis (19/11/2025)

Bagi Endang, pria yang dinikahi nya dan telah memberikannya dua putri cantik merupakan sosok seorang suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab. Dari cucuran peluh dan letih nya, keluarga kecil nya itu bisa menjalani hari dengan penuh semangat, mengantarkan buah hati ke gerbang sekolah untuk mengejar cita cita mereka.

Dengan kerja kerasnya, ia menanggung beban hidup yang kadang berat, pilihan jalan hidup bertungkus lumus di tengah hutan sawit, egrek dan brondol, semata  demi memastikan anak dan istri mendapat kehidupan yang layak dan penuh harapan. Sosoknya yang tegar dan sabar menjadi sumber kekuatan ketika badai hidup menerpa.

Kadang dalam diamnya, Rianto melayakkan diri sebagai satu satunya pria tempat bertumpu tiga perempuan penjaga rumah, bukan hanya soal mencukupi materi, tetapi juga tentang kehadiran, perhatian, dan kasih yang tak tergantikan, juga sosok yang mengikat kasih sayang.

"Mendiang adalah tulang punggung keluarga, beliau lah yang menghidupkan keluarga ini, pengorbanan selama 12 tahun tanpa henti ia tunjukkan sampai ajal menjemput,"kenang Endang dalam bangga bercampur haru dan sedih mengenang sosok yang menenangkan saat badai datang, kini tiada meninggalkan ia sendiri dengan anak anak buah cinta mereka berdua.

Petir tak hanya menyambar Rianto, tapi juga meluluhlantakkan seluruh sendi kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Selama belasan tahun kewajiban mencari nafkah  bergantung pada  semangat tak kenal menyerah dari sang kepala keluarga. Kini, tempat segala harapan itu dipikulkan telah tiada.

"Kepergian beliau yang tiba tiba pukulan bagi kami. Sebagai istri tentu saya shock,"ungkapnya

Kepergian Rianto juga menghancurkan hari hari indah Endang dan dua buah hatinya. Jalan terjal dan beban berat membayanginya menatap masa depan kedua putrinya yang dipaksa menjalani kehidupan tanpa kehadiran ayah.

“Kami tersadar, sudah tidak punya suami, anak anak sudah tidak berayah lagi,"akunya sedih

Endang mengingat, di hari terakhir suaminya pergi kerja, ia bersama dua rekannya memanen sawit di Desa Tambak masih satu Kecamatan dengan Desa Sotol. Dua rekan kerja ini yang mengetahui kejadian naas yang menimpa suaminya saat tersambar petir. 

Pagi Senin itu, ketiganya datang bersamaan di kebun sawit Desa Tambak Kecamatan Langgam. Semangat memulai hari di awal pekan tampak berlaku seperti hari biasa yang sering mereka lalui ketika berada di tengah kebun sawit.

Tak ada firasat apapun bagi kedua rekan kerja akan datangnya kejadian naas siang itu, ketiga rekan kerja ini larut dalam kesibukan masing masing. Memotong tandan sawit, menurunkan TBS dan mengumpulkan brondolan, kadang diselingi candaan dan gelak tawa ketiga nya memecah kesunyian kebun.

Ketika siang menjelang, awan hitam perlahan menyelimuti langit, tetesan tetesan kecil air turun  melembut membasahi bumi. Rintiknya semakin lama kian lebat seolah langit menumpahkan segala isinya. Gelagar gemuruh langit bak sebuah peringatan alam, disusul petir menyambar bersahutan, menggetarkan bumi dan langit dengan intensitas yang luar biasa.

Keputusan untuk rehat di gubuk kayu di tengah kebun disepakati ketiga rekan kerja itu. Keselamatan mereka lebih penting daripada jumlah tonase Tandan Buah Segar (TBS) yang berhasil di kumpulkan. Dan memang waktu istirahat makan siang serta masuk nya waktu zuhur menjadi keputusan untuk tidak menunda nunda lagi.

Ketiga sahabat ini rehat sambil merebahkan diri di lantai kayu dalam rumah kebun. Rianto kemudian menuju ke WC yang dibangun terpisah dari rumah kebun. Tiba tiba petir kuat menyambar dengan dahsyatnya, Dua kawan yang tengah berbaring santai terperanjat karena suara menggelegar. Setelah itu hening meninggalkan sepoi mengayun lidi berdaun di pelepah sawit.

Dalam kepanikan, spontan dua sahabat berlari menuju wc tempat Rianto berada, maksudnya ingin memberitahukan kejadian luar biasa yang barusan mereka alami.  Sambaran petir yang maha dahsyat ingin pula di bagikan ke sahabat yang dikiranya santai di wc.

"Dari cerita kawan abang (Rianto red) sewaktu bekerja di kebun sawit itu, ada petir menyambar dengan keras, saat itu abang lagi di wc, Kawannya ingin ngasih tau ada petir kuat sekali, dan mereka mendatangi abang di wc,"kata Endang mengisahkan

Ketika di datangi, lanjut Endang. pintu wc terkunci  di dalam. Suara hening dan tak bersahut ketika nama Rianto dipanggil membuat hati dua rekan kerja bertanya tanya, apa yang sedang berlaku di dalam sana. Tanpa berpikir panjang, pintu di dobrak untuk melihat apa yang terjadi dengan Rianto didalam.

Ketika pintu berhasil di dobrak, betapa kagetnya dua Kawan ini melihat kondisi Rianto sudah terbaring di lantai. Namanya berulang dipanggil seraya menepuk nepuk pundak untuk membangunkannya, Rianto tak bergerak, ketika badannya di telentangkan, tubuh tegap itu tak bereaksi. Nadinya menunjukkan tanda tanda tak ada denyut kehidupan.

"Di wc, kawan abang menemukan abang sudah tergelatak, di sambar petir,"lanjutnya

Kabar kepergian Rianto tersebar begitu cepat bak kilatan gundala di tengah kampung, Kepala Desa Sotol, Eka Candra mengetahui kabar tersebut langsung bergegas ke tempat kejadian. Disana, ia bersama warga lainnya mendapati korban sudah tidak bergerak lagi.

Tubuh Rianto di bawa ke sebuah rumah warga Desa Tambak yang masih berada di jalan desa dan tak jauh dari lokasi kejadian, disana dilakukan pertolongan menurut tradisi leluhur sebagai upaya penyelematan bagi korban sambaran petir. Pertolongan pertama yang dilaksanakan itu merupakan ritual kampung yang sudah turun temurun sejak zaman nenek moyang dahulu kala.

“Kata orang tua tua kami di kampung, kalua ada yang tersambar petir, upaya penyelematan di lakukan dengan mengasapkan badan korban dengan api kecil,” jelasnya

Pertolongan pertama yang dilakukan warga tak membuahkan hasil, nyawa Rianto tidak tertolong lagi, pekerja sawit informal yang sudah menetap di Desa Sotol selama 9 tahun itu akhirnya di bawa pulang dengan menggunakan ambulance.

“Setelah ambulance datang, korban di bawa ke rumahnya,” lanjut Kades Eka

Sesampai di rumahnya di Desa Sotol, penyelenggaraan jenazah Rianto dilaksanakan masyarakat setempat, jiran dan handai taulan bahu membahu menggelar fardu kifayah. 

Doa agar yang maha kuasa membuka pintu surga selebar-lebarnya telah pula dipanjatkan. Dan tak lupa pula doa dimohonkan untuk kekuatan dan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan. Kehidupan keluarga terus berlanjut, masa depan anaknya menjadi prioritas untuk diperjuangkan.

Bagi Pemerintah Desa Sotol Kecamatan Langgam, yang bisa lagi diperbuat untuk meringankan beban keluarga almarhum Rianto dengan membantu administrasi pencairan hak atas klaim dari kepesertaan BPJS Ketenagakejaan di kantor cabang Pelalawan yang berada di pusat kota Pangkalan Kerinci.

“Jadi pak Rianto ini sebelumnya kita daftarkan sebagai peserta BPJS, bantuan dari pemerintah untuk tenaga kerja di sektor informal, seperti pekerja sawit lepas. Ada beberapa warga kita yang mendapatkan program ini, salah satunya pak Rianto ini. Kartu kepersertaannya kita serahkan ke yang bersangkutan sebulan sebelum musibah merenggut nyawa beliau,”kata Eka

Masih dikatakan Eka, Pemerintah Desa Sotol bergerak cepat mengubungi Kantor BPJS Ketenagakejaan di Pangkalan Kerinci untuk menginformasikan perihal salah satu peserta program JKK dan JKM yang merupakan warga Desa Sotol  mendapatkan musibah meninggal dunia. 

"Kita beritahukan ke BPJS Ketenagakejaan bahwa pak Rianto sebagai peserta BPJS telah meninggal dunia, kita ingin memastikan hal haknya akan diterima oleh ahli waris nya,"ungkap Eka

Gayung bersambut, harapan untuk membantu anak istri Rianto mendapatkan hak atas santunan  disambut baik oleh Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pelalawan, Mahyu Fauzi menegaskan sudah menjadi kewajiban pihaknya dalam memberikan pelayanan cepat kepada ahli waris untuk mendapatkan hak atas kepesertaan BPJS yang di tanggung dari DBH Sawit dari pemerintah tersebut.

BPJS Ketenagakejaan menjamin pelayanan yang diberikan itu dimaksudkan memberikan kepastian kepada keluarga yang ditinggalkan mendapatkan dukungan finansial secara cepat dan tepat. Ahli waris dengan mudah mengakses santunan dari BPJS Ketenagakejaan tanpa birokrasi yang ribet dan berbelit belit.

“Ada perangkat Desa Sotol yang menghubungi kita, bertanya terkait klaim BPJS Ketenagakejaan atas nama pak Rianto,” aku Kepala Cabang BPJS Tenaga Kerja Pelalawan Mahyu Fauzi, Jumat (21/11/2025)  

Selain memimpin tim turun ke lokasi, Fauzi memastikan para ahli waris dan dibantu perangkat Pemerintah Desa Sotol untuk dapat melengkapi dokumen yang diperlukan, seperti surat kematian, bukti kepesertaan, dan dokumen pendukung lain sesuai ketentuan.

Setelah berkas di lengkapi, BPJS Ketenagakerjaan kemudian memverifikasi data guna mempercepat proses pencairan dana santunan sesuai aturan yang berlaku. Agar ahli waris segera menerima manfaat dari kepesertaan BPJS Ketenagakejaan.

“Untuk proses verifikasi di BPJS Tenaga kerja itu maksimal tiga hari, Untuk ahli waris pak Rianto, diajukan pada tanggal 18 Oktober 2024, dan dilakukan pembayaran klaim yang dicairkan melalui rekening  pada tanggal 22 Oktober 2024,” kata Fauzi

“Namun penyerahan secara simboliskan dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2024 oleh Asisten Administrasi umum pak Mayhendri di kantor Bupati, memang acara simblis itu dilakukan setelah dilakukan pencairan terlebih dulu,”lanjut Fauzi

Kacab BPJS Ketenagakejaan Pelalawan ini membeberkan, total santunan yang diterima oleh Endang Sri Wahyuni sebesar Rp. 230.500.000 dengan rincian Rp. 70.000.000 untuk santunan kematian, dan 160.500.000 untuk bea siswa dua orang anak dari almarhum yang ditanggung sekolahnya dari TK sampai perguruan tinggi.

Namun uang sebanyak itu tidak diterima utuh oleh ahli waris, BPJS Ketenagakejaan hanya mencairkan secara cash untuk santunan kematian saja yang berjumlah 70 juta rupiah.

“Yang di transfer itu untuk santunan kematian sebesar tujuh puluh juta,”jelas Fauzi

Untuk bea siswa, dibayarkan setiap tahun dengan rincian anak yang masih di tingkat TK dan SD akan mendapatkan bea siswa sebesar Rp.1.500.000 pertahun, untuk tingkat SMP mendapatkan Rp.2.000.000 pertahun, dan untuk tingkat SMA mendpaatkan bantuan pendidikan sebesar Rp.3.000.000 pertahun, sedangkan anak yang duduk di bangku kuliah menerima bantuan sebesar Rp. 12.000.000 pertahun

Usia anak yang ditanggung beasiswa BPJS Ketenagakerjaan adalah maksimal 23 tahun, dengan syarat belum menikah dan belum bekerja, serta harus masih menempuh pendidikan. Batas usia ini berlaku untuk anak dari peserta yang meninggal dunia atau mengalami cacat total tetap akibat kecelakaan kerja. 

“Namanya beasiswa, BPJS Ketenagakerjaan memastikan ahli waris yang masih anak anak untuk bisa terus sekolah, maksimal dua anak. Setiap tahun orang tuanya melaporkan bahwa anak nya masih sekolah,” terang Fauzi

Mahyu Fauzi berharap, manfaat dari klaim BPJS Ketenagakerjaan dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga, termasuk biaya pemakaman dan kebutuhan hidup setelah kehilangan anggota keluarga pencari nafkah.

“BPJS Ketenagakerjaan berkomitmen memberikan perlindungan sosial yang bermartabat kepada tenaga kerja dan keluarganya, terlebih di saat-saat duka seperti kehilangan orang tersayang,”katanya

Bagi Endang Sri Wahyuni, istri dari Almarhum Rianto. Tanggal 22 Oktober 2024 memiliki makna tersendiri baginya, masih memerahnya makam suami tercinta, sehari jelang satu bulan status janda ditinggal meninggal suami di sandangnya, ia seakan diberi kekuatan untuk menatap masa depan dengan penuh ketegaran. BPJS Ketenagakerjaan menepati janjinya untuk menjaga martabat keluarga pekerja yang gugur di medan hariannya, hadir bak saudara, mengikat luka hati dengan secercah harapan dan memberikan keyakinan ke ahli waris untuk tetap melanjutkan hidup dan memperbaiki ekonomi agar tidak terpuruk.

Transferan santunan kematian berjumlah 70 juta rupiah itu, menguatkan Endang untuk terus berjuang demi anak anak tercinta dengan status baru sebagai single parent, dari santunan itu pula ia bisa memperbaiki rumah di kampung agar menjadi tempat yang nyaman baginya dan kedua putrinya, minimal kehilangan itu tidak membuat mereka menjadi gelendangan. Tempatnya berteduh kini diatapi BPJS Ketenagakerjaan.

“Uang yang diterima itu sebagaian dipakai untuk memperbaiki rumah, Sebagian untuk modal usaha juga,” terang Endang mengisahkan kondisinya paska di tinggal mati suami 

Walau tidak menerima utuh jumlah nominal santunan sabagaimana tercantum di penyerahan simbolis di Kantor Bupati pada tanggal 11 Desember 2024 lalu itu, namun Endang sangat bahagia masa depan pendidikan anaknya sudah dijamin sampai perguruan tinggi. Ia tidak perlu lagi memikirkan bayar SPP kuliah anaknya kelak. Jaminan BPJS Ketenagakerjaan itu datang menguatkan asa kala duka belum sepenuhnya sirna. Hikmahnya ia bisa kuat dengan santuan BPJS ketenagakerjaan.

“Anak anak sudah dijamin pendidikan nya, tinggal menguatkan semangatnya untuk tetap sekolah.  Dengan anak anak tetap sekolah, juga jadi pengingat kenangan perjuangan ayah mereka yang tidak sia sia,” ungkapnya

“Tentu ini semua berkat BPJS, Berkat DBH Sawit, berkat pak Bupati dan Pemkab Pelalawan,”tambahnya  

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pelalawan Davitson SH MH menyebutkan Pemkab Pelalawan telah mengalokasikan bantuan BPJS Ketenagakerjaan untuk tenaga kerja sektor informal dari Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit, menargetkan petani, buruh tani, dan pekerja bongkar muat di ekosistem perkebunan sawit yang bukan penerima upah dan pekerja rentan. Pekerja yang di cover iuran kepesertaannya akan menerima manfaat dari program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).

Awalnya, Pemkab Pelalawan menargetkan sekitar 21.000 pekerja informal didaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan pada 2024, namun hanya terealisasi hingga 20.919 saja. Dengan pembiayaan penuh, Pemkab berharap program ini dapat memberikan jaminan bagi pekerja rentan di sektor sawit

“Ada 20.919 tenaga kerja dari sektor informal yang kita bantu, salah satu nya pak Rianto di Sotol yang didaftar oleh Pemerintah desa setempat,” kata Davitson, Jumat (21/11/2025)

Diakui Davitson, iuran subsidi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan untuk tenaga kerja daris ektor informal hanya bisa ditanggung sebanyak 7.639 orang saja di tahun 2025.

“Memang turun, tapi kita tetap ada di tahun 2025 ini,” pungkasnya

Dengan pemanfaatan DBH Sawit secara maksimal hingga 2025, merupakan bentuk perhatian nyata Pemkab Pelalawan terhadap pekerja rentan, menghasilkan santunan langsung bagi korban kecelakaan atau ahli waris. Dukungan berkelanjutan ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat sawit dalam perjuangan memperbaiki ekonomi di masa depan.***

Penulis : Apon Hadiwijaya

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index