Aksi Solo Menantang Raksasa Industri: Suara Sunyi Pemuda Melayu untuk Sungai Kampar

Aksi Solo Menantang Raksasa Industri: Suara Sunyi Pemuda Melayu untuk Sungai Kampar
Aksi demonstrasi tunggal pemuda Melayu bertanjak di depan Pos 1 pintu masuk RAPP, Senin (24/11/2025).

PELALAWAN, (Mata Andalas) — Seorang pemuda berbusana adat Melayu lengkap dengan tanjak melakukan aksi demonstrasi tunggal di tiga lokasi berbeda pada Senin (24/11/2025), menuntut kejelasan dan akuntabilitas atas matinya ribuan ikan di Sungai Kampar, Desa Sering, Kecamatan Pelalawan.

Aksi yang dilakukan oleh Mori itu menarik perhatian publik karena digelar di tiga titik strategis sekaligus: depan Pos 1 pintu masuk RAPP yang bertanda Objek Vital Nasional, persimpangan lampu merah, dan depan Pos 2. Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi berlangsung tertib dan damai dengan pengawalan pihak kepolisian, serta tidak mengganggu aktivitas operasional perusahaan.

Dalam orasinya, Mori menyuarakan keresahan masyarakat dan nelayan yang menggantungkan hidup pada Sungai Kampar. Tragedi ekologis kematian ikan secara massal dalam beberapa hari terakhir telah membuat warga resah dan memunculkan kecurigaan kuat terkait sumber pencemarannya.

“Kami meminta PT RAPP dan PT APR bertanggung jawab atas dugaan pencemaran yang menyebabkan ribuan ikan mati. Ada dugaan kuat fenomena ini berasal dari endapan limbah yang dialirkan melalui kanal pembuangan perusahaan,” tegas Mori.

Ia juga menyampaikan bahwa apabila perusahaan tidak memberikan penjelasan resmi dan transparan, pihaknya akan meminta Presiden Prabowo Subianto, kementerian terkait, serta Pemerintah Kabupaten Pelalawan untuk melakukan evaluasi terhadap izin operasional perusahaan.

“Kami sangat peduli dengan keberlangsungan ekosistem Sungai Kampar. Banyak warga Desa Sering bergantung pada hasil tangkapan ikan. Jika sungai tercemar, maka mata pencaharian mereka hilang,” ungkapnya.

Permintaan klarifikasi kepada PT RAPP telah disampaikan melalui Erik Humas perusahaan, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan yang diberikan.

Fenomena kematian ribuan ikan di Sungai Kampar kini menjadi perhatian luas, mengingat sungai tersebut merupakan urat nadi ekonomi, budaya, dan kehidupan bagi masyarakat Pelalawan.***

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index