PELALAWAN, (MataAndalas) - Dugaan penganiayaan dan intimidasi terhadap seorang pedagang sate di kawasan Masjid Agung Ulul Azmi, Pangkalan Kerinci, menuai kecaman dari Anggota DPRD Kabupaten Pelalawan, Efrizon. Peristiwa yang terjadi pada Kamis pagi (1/1/2026) tersebut dinilai mencederai rasa keadilan serta menimbulkan keresahan di kalangan pedagang kecil.
Insiden itu terjadi di area pelataran parkir Masjid Agung Ulul Azmi, yang belakangan dimanfaatkan sebagai lokasi berjualan oleh sejumlah pedagang kaki lima. Keributan yang awalnya dipicu persoalan tempat duduk pembeli sate berujung pada dugaan kekerasan fisik.
“Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Aparat penegak hukum harus bertindak tegas dan memproses kasus ini sesuai aturan. Jangan sampai pedagang kecil menjadi korban intimidasi,” tegas Efrizon, Sabtu (3/1/2026).
Efrizon juga menyoroti informasi bahwa pihak yang diduga terlibat merupakan keluarga dari salah seorang petugas keamanan masjid.
“Seharusnya keluarga pengurus atau security masjid menjadi teladan dalam menjaga ketertiban, bukan justru memicu keributan di lingkungan rumah ibadah,” ujarnya.
Pedagang Lain Mengaku Resah
Keresahan juga dirasakan pedagang lain di sekitar Masjid Agung Ulul Azmi. Seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengaku bahwa intimidasi dan konflik dengan keluarga petugas keamanan masjid bukan hal baru.
“Yang membuat kami miris, saat pengeroyokan itu justru didukung oleh suami atau ayah pelaku. Hampir semua pedagang di sini sudah resah,” ungkapnya.
Ia menyebut, sebelumnya keluarga tersebut juga kerap melarang pedagang lain berjualan.
“Dulu dia yang melarang kami berjualan, sekarang malah sering cari masalah. Seolah-olah hanya mereka yang boleh menguasai lapak di sini. Pedagang lain jadi tidak nyaman,” tambahnya.
Pengakuan Korban: Mengaku Lama Diintimidasi
Korban, Rosmalinda (39), mengaku telah lama mengalami intimidasi sebelum insiden penganiayaan terjadi.
“Saya sudah beberapa kali disuruh pindah-pindah tempat dengan alasan mereka keluarga pengurus. Sampai sekarang saya tidak tahu apa kesalahan saya,” ujarnya, Sabtu (3/1).
Akibat kejadian tersebut, Rosmalinda mengaku mengalami trauma dan telah menjalani visum medis.
“Saya sudah lapor dan divisum. Saya berharap pelaku diberi hukuman yang setimpal,” katanya.
Versi Terduga Pelaku: Mengaku Terjadi Saling Pukul
Wartawan Mataandalas juga melakukan wawancara langsung di lokasi kejadian pada Sabtu (3/1/2026) dengan salah satu pihak yang diduga terlibat.
Menurut keterangannya, keributan bermula dari persoalan bangku tempat duduk pembeli yang dianggap milik lapaknya.
Adu mulut kemudian berlanjut menjadi perkelahian.
“Saya minta video itu dihapus, tapi tidak mau. Lalu saya dipukul pakai tong sampah. Setelah itu saya balas. Jadi ada saling pukul,” ujarnya, Sabtu (3/1).
Ia mengklaim kejadian tersebut disaksikan oleh beberapa orang di lokasi.
Polisi: Belum Ada Laporan Resmi
Wartawan Mataandalas telah mengonfirmasi pihak kepolisian.
Humas Polres Pelalawan, Iptu Thomas Bernandes, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang diterima.
“Belum ada laporannya,” ujar Iptu Thomas, Sabtu (3/1).
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Kapolsek Pangkalan Kerinci, AKP Shilton, S.I.K., M.H., melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (3/1/2026) dan ditindaklanjuti kembali pada Ahad (4/1/2026). Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan.***