Tragedi Ekologis Sungai Kampar: Warga Hentikan Tongkang PT RAPP, DLH Belum Umumkan Hasil Lab

Tragedi Ekologis Sungai Kampar: Warga Hentikan Tongkang PT RAPP, DLH Belum Umumkan Hasil Lab
DLH Pelalawan gelar konferensi pers soal kematian ikan di Sungai Kampar, sementara warga melakukan aksi menghentikan tongkang kayu PT RAPP sebagai tekanan moral menuntut kejelasan penyebab tragedi ekologis tersebut.

PELALAWAN, (Mata Andalas) — Polemik kematian ribuan ikan di Sungai Kampar, Desa Sering, Kecamatan Pelalawan, terus menyita perhatian publik. Setelah temuan awal ikan mati beberapa minggu lalu, masyarakat masih menantikan kejelasan penyebab tragedi ekologis tersebut. Suasana semakin memanas setelah aksi spontan warga menghentikan ponton atau tongkang kayu milik PT RAPP yang melintas di lokasi kejadian.

Di tengah kegelisahan masyarakat, kritik keras muncul dari jajaran DPRD Pelalawan yang menilai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tergesa-gesa menyampaikan dugaan awal sebelum adanya hasil resmi laboratorium. DPRD mendesak DLH bersikap transparan dan profesional serta tidak menyampaikan narasi yang dapat menyesatkan publik maupun menguntungkan pihak tertentu.

Menjawab polemik tersebut, DLH Pelalawan menggelar konferensi pers resmi di Pangkalan Kerinci, Senin (24/11/2025). Kepala DLH Pelalawan, Eko Novitra, ST, M.Si, didampingi Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda, Herizaldi, ST, menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kematian massal hewan air tersebut karena hasil laboratorium masih dalam proses analisis.

“Kami tegaskan bahwa sampai hari ini belum ada hasil analisa. Ada delapan sampel yang kami periksa: enam sampel air sungai dan dua sampel dari outlet IPAL PT RAPP dan APR sebelum masuk ke badan sungai,” jelas Eko.

Ia menerangkan bahwa pemeriksaan laboratorium memiliki prosedur teknis yang tidak bisa dipaksakan percepatannya.

“Minimal pemeriksaan dua pekan dan maksimal satu bulan. Jadi kita menunggu hasil resmi laboratorium terlebih dahulu,” ujarnya.

DLH menegaskan bahwa pihaknya bekerja profesional dan independen.

“Kami independen. Apapun hasil labor nantinya akan diumumkan secara terbuka,” tegas Eko.

Sungai Kampar merupakan sumber ekonomi, budaya, dan ruang hidup bagi ribuan masyarakat Pelalawan. Karena itu, kasus ini tidak boleh dipandang sebelah mata, mengingat dampaknya berkaitan langsung dengan kesehatan publik, kelestarian lingkungan, dan akuntabilitas korporasi.***

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index