PELALAWAN, (MataAndalas) - Seorang perempuan berinisial S. mengaku telah menikah secara siri dengan seorang pria berinisial F., yang disebut bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu kantor kecamatan di Kabupaten Pelalawan.
Pernikahan tersebut, menurutnya, telah berlangsung sekitar satu tahun dan dibuktikan dengan surat pernyataan pernikahan menurut syariat Islam yang dimilikinya.
Melalui pesan WhatsApp yang diterima wartawan MataAndalas, S. mengungkapkan bahwa selama menjalani rumah tangga, dirinya mengaku tidak memperoleh nafkah yang layak, terutama untuk memenuhi kebutuhan anak mereka yang masih balita.
"Kami sudah nikah siri satu tahun. Suami saya kerja di kantor camat sebagai Kasi PMD. Kami tidak dibiayai. Makan minum saya tanggung sendiri. Minta susu anak pun susah, alasannya selalu tidak ada uang," tulis S. melalui pesan WhatsApp kepada wartawan MataAndalas, Senin (29/06).
Menurut pengakuannya, selama ini dirinya tidak pernah menuntut kebutuhan yang berlebihan kepada suaminya. Ia mengaku hanya meminta nafkah yang menjadi hak anak mereka.
"Selama ini saya tidak pernah minta macam-macam, kecuali nafkah untuk anak. Untuk makan saya selalu saya cukup-cukupkan sendiri," ujarnya.
Ia juga mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, saat anak mereka sakit, suaminya disebut tidak datang menjenguk.
"Sudah lama seperti ini. Bahkan anak sakit pun tidak dibesuk," katanya.
Tak hanya itu, S. juga mengungkapkan bahwa sejak awal setelah melahirkan melalui operasi, dirinya merasa ditinggalkan oleh suaminya.
"Dari awal habis operasi melahirkan saya sudah ditinggalkan. Waktu itu saya hanya diam karena kondisi baru selesai melahirkan," ungkapnya.
Menurutnya, setiap kali meminta nafkah untuk kebutuhan anak, justru berujung pertengkaran.
"Setiap minta nafkah pasti bertengkar dulu.
Saya cuma minta nafkah untuk anak kami karena masih bayi dan butuh susu serta kebutuhan lainnya," tulisnya.
Ia juga mengaku sering kali kesulitan menghubungi suaminya ketika membutuhkan biaya untuk anak.
"Kalau saya hubungi untuk minta susu dan kebutuhan anak, sering tidak diangkat. Saya telepon sampai puluhan kali pun tidak dijawab," tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, MataAndalas masih berupaya menghubungi F. untuk memperoleh klarifikasi dan tanggapan atas pengakuan yang disampaikan oleh S. sesuai dengan prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.
Catatan Redaksi: Informasi dalam berita ini merupakan pengakuan narasumber yang disampaikan kepada wartawan melalui pesan WhatsApp. Redaksi masih menunggu hak jawab dan klarifikasi dari pihak yang disebut dalam pemberitaan.***